Beberapa hari terakhir ini media-media di indonesia (jakarta khususnya) sedang heboh memuat berita mengenai Film ML(Mau Lagi) yang sedang akan launching yang di ketuai bos Indika Entertainment, Shanker.
Dalam beberapa adegan dinyatakan bahwa terdapat adegan-adegan yang sangat tidak semestinya tidak ditampilkan sehingga bisa memicu kontroversi dari berbagai lapisan.
dari pihak LSF menyatakan : “Setelah beberapa kali sensor film itu sudah dipotong sepanjang 15 menit. Karena ada hal-hal yang tidak seharusnya,” urai Titie dalam diskusi di Gedung Film Jl M.T Haryono, Jakarta Selatan, Senin (12/5/2008).
Menurut Titie, adegan yang disebutnya terlalu erat, buka-bukaan, bahkan trailernya pun kena sensor. Selain itu katanya tak ada masalah dengan film yang ceritanya mirip ‘American Pie’ tersebut.
Sangat disesalkan bahwa dari waktu ke waktu dunia Perfilman Indonesia semakin tidak bermutu tidak ada unsur edukasi yang ada hanya bisnis dan bisnis dengan mengorbankan generasi muda di Indonesia ini.
Komentar saya:
Yang masalah bukan cuma adegan adegannya, tapi juga message dan ideologi yang ditawarkan. meski semua adegan “panas” di cut dari film seperti itu, bukan berarti filmnya bersih dan layak tonton. yang berbahaya justru penonton diajarkan untuk “menerima’ dan “menganggap biasa” hal-hal berbau seks bebas dan budaya werstern itu. pembiasaan inilah yang disebut “merusak moral generasi!”
suatu saat para ortu di indonesia akan menganggap biasa anaknya melakukan seks bebas, bahkan mendukung dan”membantu” nya mungkin, seperti dikisahkan dalam seri-seri Amercan Pie. Generasi mudanya terkonsentasi hanya pada hal-hal seputar seks, pacaran, narkoba. persis seperti karakter yang digambarkan dalam sinospis flm ML yang saya baca.
sekali lagi, mutu film bukan dilihat dari “berani” atu tidaknya para pemainnya. Coba lihat film-film barat yang dapat penghargaan, kebanyakan justru bersih dari adegan-adegan “panas”. Liat BOBBY, FINDING NEVERLAND, atau bahkan KINGKONG kale ya… :-). itu flm bagus-baus tanpa harus ada adegan sex-nya.Film-film iran juga diakui di internasional tanpa harus umbar aurat.
Saya justru kasihan pada orang yang mengatas namakan kelompok yang ingin melihat film indonesia maju, tapi justru ia mendukung degradasi mutu film indonesia itu sendiri. Flm-film serupa ML ini tentu saja bukan dibuat dalam rangka “memajukan” perfilman nasional. Saya yakin betul hal itu tidak terlintas di benak produsernya saat berniat membuat film ini! Yang dipikirkan pastilah pasar!
mungkin ada yang mengeluhkan bahwa masyarakat sendiri tidak suka nonton film “bermutu”, akibatnya filmnya bisa jadi tidaklaku. Yah, begitulah potret masyarakat kita. seleranya masih sangat rendahan.
Tapi kalau bukan para pembuat film itu sendiri, siapa lagi yang bertanggungjawab “meluruskan” selera masyarakat kita?
kalau justru disodori yang mereka suka saja (yg notabene rendahan), kapan mereka bisa berubah?

Tinggalkan Balasan